scn-crest.org

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Diskusi “Perempuan Memberdayakan Dirinya Sebuah Kerangka yang Kritis dan Mengubah”

E-mail Print PDF

Tidak seperti biasanya, Rabu (30/12/09) pagi, ruang kantor Yasanti digelari tikar. Pagi itu, Yasanti menggelar diskusi internal mengenai kerangka penelitian WEMC (Women’s Empowerment in Moslem Context) dengan tema “Perempuan Memberdayakan Dirinya Sebuah Kerangka yang Kritis dan Mengubah”. Sri Wiyanti Eddyono (Iyik) yang menjadi pembicara dalam diskusi ini. Hadir pada diskusi kali ini adalah para staf Yasanti, yakni Amin, Asih, Isti, Dini, dan Leonie. Yasanti sendiri adalah salah LSM yang mendampingi buruh, terutama buruh gendhong di pasar Beringharjo dan Giwangan Yogyakarta.

Diskusi dibuka oleh nyonya rumah, yakni mbak Isti. Ia memberikan pengantar mengenai kiprah Yasanti, LSm di Yogyakarta yang mendampingi buruh. Saat ini sudah banyak lembaga yang menangani buruh. Bahkan buruh sendiri sendiri, terutama buruh pabrik sudah banyak yang mengorganisir diri lewat SB (Serikat Buruh) yang ada. Akan tetapi yang agak berbeda terjadi pada buruh gendhong. Mereka ini model perempuan yang jika dihadapkan pada sebuah persoalan, jawabannya nggih mboten . Yang terucap dari mulut buruh-buruh itu adalah “Pun manut mawon ”. Memang persoalan yang melingkupi buruh berbeda-beda antara buruh pabrik, buruh gendhong, buruh rumahan yang outsourchingkan dari perusahaan, dan buruh rumahan yang employment yang bekeja di rumah. Tema diskusi pagi ini diharapkan cocok untuk diterapkan pada dampingan Yasanti sesuai dengan levelnya.
Mbak Iyik memulai diskusi pagi itu dengan perkenalan mengenai WEMC. Penelitian WEMC disusun menggunakan pendekatan yang berbeda dengan penelitian lain yang selama ini hanya berfocus pada masalah, sedangkan WEMC ingin focus pada usaha perempuan mengatasi masalah. Asumsinya setiap perempuan itu dapat bertahan dengan segala masalah kehidupan yang ada, bahkan perempuan di akar rumput mempunyai inisiatif untuk mengatasi masalah meskipun tanpa bantuan dari pihak lain.
Penelitian WEMC adalah mendokumentasikan inisiatif-inisiatif perempuan, oleh karenanya ada kerangka penelitian tentang perempuan memberdayakan dirinya. Ada faktor-faktor yang membuat perempuan dapat kuat inisiatifnya sehingga jadi lebih meningkat dan menjadi lebih luar biasa namun ada juga yang tidak berdaya sehingga jelas ada factor-faktor yang melemahkan. WEMC percaya hanya perempuanlah yang bisa mengubah dirinya. Pertanyaan utama dalam diskusi ini adalah “Apa sih yang disebut dengan perberdayaan menurut teman-teman di sini?”
“Pemberdayaan itu memaksimalkan, mengubah atau memerangi dirinya sendiri. Kalau ada bantuan ya syukur, bantuan bukan berarti nyoh  diberikan tapi berupa tambahan wawasan dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperluas jalan dan memaksimalkan untuk perubahan di dalam dirinya,” jawab mbak Asih. Sedangkan menurut mbak Amin, yang dimaksudkan dengan pemberdayaan adalah dapat mandiri dalam mengambil keputusan dan secara ekonomi. Meskipun dalam mengambil keputusan harus tetap mengkompromikan dengan orang lain. Hal yang berbeda diungkapkan mbak Isti, dalam pemikirannya pemberdayaan adalah suatu proses dari tidak berdaya menjadi berdaya. Dari yang tahu, kemudian mau, dan bergerak. Perempuan bisa menjadi berdaya membutuhkan stimulus karena proses pemberdayaan bisa up and down.
Tantangan berat dihadapi perempuan agar ia dapat berdaya. Ada tahapan dalam proses pemberdayaan. Saat mengambil keputusan misalnya, perempuan harus mengkompromikan dengan keluarga, baik suami, orang tua, maupun anak. “Ketika saya bisa meminta pendapat dari suami dan anak. Ini kan sebenarnya hanya pertimbangan. Jika suami atau anak tidak setuju maka akan saya pertimbangkan”, ucap mbak Asih. Di sini muncul adanya negosiasi. Diperlukan juga cara dan strategi yang pas untuk bisa mengambil keputusan. Munculnya sebuah keyakinan akan dirinya sendiri untuk bisa maju dan dapat meyakinkan orang lain menjadi indicator lain dalam proses pemberdayaan.
Yang menarik dari diskusi pagi itu, dari jawaban teman-teman mengenai pemberdayaan ternyata tidak ada yang menyinggung mengenai kuasa. Pemberdayaan adalah terjemahan empowerment yang mempunyai kata dasar power yang berarti kuasa. Dari awal yang lebih banyak disinggung adalah daya. WEMC merasa penting untuk mentrasformasikan relasi kekuasaan yang tidak diinginkan karena ada relasi yang tidak seimbang dengan suami, orang tua, anak, mertua, teman, saudara. Penelitian WEMC melihat bukan saja pada penguatan kapasitas agar perempuan lebih otonom tapi juga dapat membuat perempuan bisa mengubah pola relasi yang seimbang. Kuasa ini ada hadir dan tanpa kita sadari ini mempengaruhi kita. Mengapa sama-sama manusia namun suami lebih bisa mengambil keputusan sendiri tanpa memperhitungkan kita? Sedangkan kita harus memperhitungkan banyak hal. Mengapa berbeda? Punya saudara laki-laki? Teman-teman kemudian sibuk dengan pikiran masing-masing mengenai pertanyaan-pertanyaan ini.
Dalam pandangan WEMC pemberdayaan dapat mengubah relasi kekuasaan, yakni ketika seorang istri bisa membuat suaminya mengerti kalau dia protes. Bisa membuat suami mengerti jika mencuci adalah pekerjaan yang yang dapat dilakukan bersama-sama. Perepuan pun dapat menjelaskan kepada mertua jika suami mencucikan pakaian dalam istri berarti sama juga seperti istri mencucikan pakaian dalam suami. WEMC mengangkat penguatan kapasitas, pengambilan keputusan yang otonom dengan perempuan yang bisa mengubah relasi kekuasaan. Itulah yang WEMC sebut sebagai perempuan yang sudah berdaya.
“Mengapa malu-malu menyinggung atau bahkan takut bicara kekuasaan?” Tanya mbak Iyik. Kekuasaan harus diungkapkan. Menyinggung pemberdayaan berarti membuat kita “berkuasa”. Menurut mbak Isti, saat mendampingi memang mereka tidak menggunakan kata “kuasa”, Yasanti lebih memilih menggunakan kata yang lebih halus misalnya dengan peran. Para buruh gendhong tersebut memahami kata kuasa sebagai orang yang berkuasa atau pejabat. Ada pula pandangan bahwa kuasa itu seperti ingin berkuasa. Jika perempuan lebih berdaya seperti ingin membalikkan sesuatu. Jika ada istri yang lebih berdaya dari suaminya dianggap mendominasi. Padahal baru dianggap seimbang saja tapi perspektifnya seperti itu. Perempuan itu di bawah laki-laki. Saat misalnya bisa sejajar pun kemudian dianggap lebih dominan, berani, jadi ada konotasi negatif.
Mengambil keputusan otonom tidak mudah karena berbagai macam kekuatan yang melemahkan di setiap lini kehidupan. Mbak Iyik menggambarkan kekuasaan itu bagai kulit bawang. Ya, kekuasaan itu berlapis-lapis. Saat satu kuasa bisa kita lalui, akan ada kekuasaan lain yang bermain. Orang yang berkuasa bisa mengatakan boleh tidak boleh. Sebaliknya, orang yang tidak punya kuasa maka dia tidak bisa mengatakan boleh atau tidak. Orang bisa mengontrol orang lain karena kuasa. Kuasa ini bentuknya bisa orang tua ke anak. Suami ke istri. Bentuknya macam-macam. Kekuasaan inilah yang masuk ke dalam diri perempuan dan melemahkan atau dalam istilah WEMC disempowering. Pelemahan ini terjadi di wilayah domestic maupun public.
WEMC melihat bahwa proses perempuan untuk menyiasati kekuasaan ini ah luar biasa banyak. Setidaknya ada tiga golongan perempuan. Satu, adalah perempuan itu diam. Yang kedua perempuan itu diam namun bersiasat atau tricky. Sehingga wait and see dulu kemudian mencari celah. Sedangkan yang ketiga adalah melawanTidak ada yang salah atau pun benar karena ketiganya mempunyai resiko. Proses pemberdayaan yang dilakukan WEMC adalah dengan membuka peluang bagi perempuan untuk memilih strategi yang sesuai dirinya dan hanya dirinya yang memutuskan. Kita hanya bisa memberikan informasi. Misalnya di Gunungkidul ada seorang ibu yang setelah mengalami KDRT kemudian dia melawan. Dia melaporkan suaminya, “Oh, selama ini tidak benar to.” Jadi pengetahuan ini kemudian melegitimasi apa yang selama ini ada pada dirinya. Responnya akan berbeda jika ada perempuan yang tidak mengalami kekerasan. Ada empat tema yang menjadi focus penelitian WEMC yaitu pandangan perempuan tentang kekuasaan-kekuatan penguat-pelemah, perempuan dapat terlibat dalam kontestasi kekuasaan, strategi dan capaian inisiatif pemberdayaan perempuan
WEMC membuka ruang bagi perempuan untuk berproses saat perempuan merespon sesuatu. Intervensi kita adalah proses pemberian informasi, diskusi, memberikan stimulus. Salah satu penelitian di Ghuang Zou, China mengatakan jika perempuan sukses itu memang sudah tidak lagi memerlukan pemberdayaan. Dalam pandangan kita itu menjadi masalah namun untuk mereka bukan. Kita sudah memberikan akses informasi namun tidak diambil. Belum tentu informasi kita itu bermanfaat buat mereka. Mungkin karena pemahamannya berbeda sehingga ia tidak menganggap informasi yang kita berikan sebagai kesempatan. Sehingga perlu ada momentum yang mendukung kesempatan itu.
Dari hal kecil yang mungkin tidak mereka sadari ternyata bisa berpengaruh besar. Pada penelitian WEMC di Cianjur, peneliti merasa aneh dengan adanya kasus AKB yang tinggi di daerah itu. Kemudian ia sampaikan kepada ibu-ibu dampingannya di Majelis Taklim. Banyak ibu mengakui bahwa dari enam anaknya, hanya tiga yang hidup. Bahkan ada yang melahirkan 22 kali yang hidup satu. Namun mereka tidak menganggap ini menjadi masalah. Setelah dari pertemuan ini, muncul rasa penasaran dari satu ibu yang kemudian mengumpulkan informasi mengenai AKB ini ke ibu-ibu yang lain bahkan sampai bertanya kepada kepala desa.
Dari sini terlihat jika bukan lagi membagi masalah namun berbagi inisiatif. Sehingga individu-individu ini kemudian bergabung seperti di Yasanti misalnya bergabung di kelompok-kelompok. Dari yang individu kemudian kolektif, lalu terinstusionalisasi. Namun pola ini tidak linier. Ada orang yang sudah sadar secara individu kemudian bergabung. Setelah kolektif kemudian dia keluar. Up an down tadi. WEMC belum bisa menyimpulkan apakah pemberdayaan itu harus kolektif kemudian terinstitusionalisasikan karena naik turunnya pola ini dipengaruhi oleh kekuatan pelemah. Kekuatan yang melemahkan ini menyatu kemudian menyerang kekuatan yang sudah terorganisir ini sehingga menjadi turun lagi ke individu.
***
Forum diskusi “Perempuan Memberdayakan Dirinya Sebuah Kerangka yang Kritis dan Mengubah” memang tak berujung pada satu kesimpulan ketat mengingat begitu luasnya pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan. Meski demikian, mbak Iyik pembicara diskusi ada beragam cara dan metode yang bisa digunakan. Ada cara Solidaritas Perempuan yang langsung menggebrak, atau menggunakan cara LSPPA yang lebih harmoni. Ada satu simpul yang bisa ditarik dan menjadi catatan ke depan yakni bagaimana perempuan bisa memberdayakan dirinya dan mengubah relasi kuasa yang selama ini melemahkan dengan cara yang sesuai dengan dirinya, sesuai dengan kemampuannya. (Leonie Dian Anggrasari)

 



Last Updated on Friday, 15 January 2010 10:09  
Banner
Debate concerning woman rights, in the middle of culture patriarkhi.

Online Menu

None

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday133
mod_vvisit_counterYesterday511
mod_vvisit_counterThis week2608
mod_vvisit_counterLast week2572
mod_vvisit_counterThis month4698
mod_vvisit_counterLast month11858
mod_vvisit_counterAll days76190

Online (20 minutes ago): 10
Your IP: 38.107.191.107
,
Today: Mar 12, 2010

English (United Kingdom)Indonesian (Indonesia)

Events Calendar

« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Contact Us