• Lokalatih Pengintegrasian Perspektif Gender dalam Kelembagaan dan Program
    Lokalatih Pengintegrasian Perspektif Gender dalam Kelembagaan dan Program
  • Renstra SCN-CREST, Juni 2016
    Renstra SCN-CREST, Juni 2016
  • Seminar Hasil Penelitian SCN CREST - UNRISD
    Seminar Hasil Penelitian SCN CREST - UNRISD
  • Rapat Koordinasi JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota) Jakarta
    Rapat Koordinasi JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota) Jakarta

    November, 2015

  • Penguatan Pekerja Rumahan dan Organisasi Pekerja Rumahan untuk Advokasi Kerja Layak
    Penguatan Pekerja Rumahan dan Organisasi Pekerja Rumahan untuk Advokasi Kerja Layak

Jangan pernah biarkan Ibu hamil dalam kesendirian

Tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika kita mengutamakan keselamatan bagi Ibu atau seorang perempuan yang akan memiliki anak bukan? Ini bukan hanya perhatian basa-basi, tapi ini bicara tentang kehidupan dan kematian seorang manusia, dalam hal ini dikarenakan oleh melahirkan. Seorang Ibu memilih untuk memiliki anak adalah sebuah penghargaan tertinggi untuk menciptakan generasi baru bagi bangsa kita, tak seharusnya meninggal bukan? Tapi mereka tak punya pilihan lain selain meninggal karena banyak alasan kesehatan dan kesadaran yang belum berpihak pada upaya mereka untuk memiliki seorang buah hati.

 Kematian ibu (maternal death) menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera.

Dari kebanyakan yang terjadi, penyebab utama kematian ibu bisa berhubungan dengan komplikasi obstetrik selama masa kehamilan, persalinan dan masa nifas (post-parfum). Penyebab lainnya diakibatkan oleh penyakit yang telah diderita ibu, atau penyakit yang timbul selama kehamilan dan tidak ada kaitannya dengan penyebab langsung obstetrik, tapi penyakit tersebut diperberat oleh efek fisiologik kehamilan.

Menurut hasil kajian kinerja IGD Obstetri-Ginekologi dari RSUP Cipto Mangunkusumo, yang merupakan RS rujukan nasional dalam penanganan Angka Kematian Ibu di Indonesia, ada lima hal penyebab kematian ibu saat melahirkan yaitu: Perdarahan yang tidak terkontrol, menyumbang sekitar 20%-25% kematian ibu sehingga merupakan risiko yang paling serius menyebabkan kematian Ibu saat melahirkan. Kemudian Eklampsia yang merupakan sebuah kondisi yang ditandai dengan gagal ginjal, kejang, dan koma saat kehamilan atau pasca melahirkan, sehingga dapat berujung pada kematian ibu saat melahirkan. Lalu kematian Ibu melahirkan akibat Sepsis maternal, dikarenakan sebuah infeksi bakteri yang parah, biasanya terjadi pada uterus (rahim), inveksi ini dapat menyebar dari rahim ke saluran tuba dan ovarium atau ke dalam aliran darah yang umumnya terjadi beberapa hari setelah Ibu melahirkan, hingga menyebabkan kematian. Penyebat terakhir kematian Ibu melahirkan adalah kegagalan pernafasan akut yang merupakan salah satu penyebab umum kedaruratan kebidanan yang berisiko kematian tinggi, umum kegagalan pernapasan akut adalah embolisme paru (pulmonary embolism) dan paling sering terjadi pada periode setelah melahirkan (postpartum).

Kasus Ibu meninggal karena melahirkan, memiliki persentase tertinggi di daerah pedesaan Indonesia bagian Timur khususnya, seperti di provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Sulawesi. Melihat kondisi ini, penyebab utama peningkatan Angka Kematian Ibu melahirkan dikarenakan kurangnya pendidikan mengenai kesehatan Reproduksi, kesadaran atas penjagaan kehamilan ibu dan juga fasilitas penunjang dan pendukung kehidupan sehat bagi ibu hamil yang belum memadai dan berpihak pada Ibu tentunya. Belum lagi kesadaran masyarakat dan keluarga sendiri khususnya dalam menjaga dan mengawal proses kehamilan hingga Ibu melahirkan yang masih begitu kurang. Bahkan beberapa masyarakat masih meletakan tanggung jawab atas kehamilan dan proses melahirkan ditangan seorang Ibu sendirian. Bisa dibayangkan, seorang Ibu hamil yang seharusnya mendapat perhatian dan prioritas lebih karena kehamilannya ditinggal sendirian? Ini lebih durhaka dari pada penelantaran seorang manuasia.

Untuk menekan angka kematian ibu, pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan harus terus melakukan intervensi kesehatan secara serius. Salah satunya dengan memberi dan terus memberi pemahaman tentang kesehatan reproduksi, pentingnya hidup sehat bagi Ibu Hamil, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk care pada Ibu hamil dan mengutamakan keselamatan ibu saat melahirkan.

Apa pun yang dikatakan survei, harus terus berfokus pada manusianya. Meminta para dokter dan tenaga kesehatan di seluruh daerah tak hanya terpaku pada angka-angka dan presentasi. Dokter dan tenaga kesehatan, harus fokus pada pendekatan dan upaya preventif meningkatkan kesehatan masyarakat. Terhadap ibu hamil, tindak pencegahan dan pemantauan harus dilakukan sedini mungkin. Jangan pernah kemudian menyalahkan kesadaran masyarakat jika sebagai Dokter dan Tenaga Kesehatan sendiri belum pernah melakukan upaya yang serius untuk mengentaskan Angka Kematian Ibu melahirkan ini.

Karena kita sedang menyelesaikan permasalahan kehidupan yang serius, yaitu kematian Ibu, jelas berbeda caranya dibandingkan dengan mengurus permasalahan politik atau masalah lainnya. Melahirkan bayi sehat oleh ibu yang sehat fisik, mental, dan sosial bukan isu perempuan, melainkan isu sosial-budaya-politik bangsa. AKI tinggi selama bertahun-tahun adalah dampak pembiaran pelanggaran hak-hak perempuan yang tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan. Butuh upaya kesadaran yang tinggi bagi para penanggung jawab (terkhusus pada pemerintah tentunya) untuk kemudian dapat melakukan upaya penyadaran kepada masyarakat untuk peduli kepada Ibu Hamil dan bersedia dengan segala kesiapan membantu proses Ibu Melahirkan. Ingat, tidak cukup hanya kesadaran Ibu hamil saja! Masyarakat sebagai agen sosisal juga butuh kesadaran atas penjagaan kesehatan dan penyelamatan Ibu saat melahirkan. Jangan pernah biarkan perempuan atau Ibu hamil dalam kesendirian.

Upaya lain yang juga tak kalah utama adalah mendorong masyarakat dan keluarga, terutama suami yang merupakan orang terdekat Ibu, untuk lebih aktif mengontrol dan menjaga pasangannya yang sedang hamil. Deteksi dini dari keluarga akan menjauhkan ibu hamil dari resiko kematian. Come On! Jangan pernah biarkan perempuan hamil dalam kesendirian.

Orang-orang terdekat adalah bagian penting atas prioritas keselamatan kehamilan seorang Ibu yang kemudian akan menentukan keselamatan atas anak yang dilahirkannya. Semua keluarga juga suami terkhusus tentu saja ingin Ibu atau Istrinya selamat saat melahirkan buah hatinya kedunia. Jangan sampai kehamilan yang seharusnya membuahkan kado indah atas kelahiran buah hati dalam keluarga atau Rumah Tangga, berubah menjadi petaka dengan kematian Ibu saat melahirkan hanya karena keluarga, suami atau masyarakat melupakan kesadaran atas kesehatan dan prioritas pelayanan bagi Ibu Hamil sejak dini. Ingat! Jangan pernah biarkan Ibu Hamil sendirian memperjuangkan hidupnya.****(Siami Maysaroh)

http://www.kalyanamitra.or.id/

Visitors Counter

00812517
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
86
95
558
186559
2328
3944
812517

Like SCN-CREST

Login